Rabu, 09 Februari 2011

PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP KOMUNIKASI KELOMPOK

Konsep diri merupakan tema utama psikologi humanistik yang muncul belakangan ini, pembicaraan tentang konsep dapat di lacak sampai William James. James"The I", diri yang sadar dan aktif dan "The Me", diri yang menjadi obyek renungan kita. Menurut William James, ada dua jenis diri, yaitu "diri" dan "aku". Diri adalah Aku sebagaimana dipersepsikan oleh orang lain atau diri sebagai obyek (Objective Self), sedangkan Aku adalah inti dari diri aktif, mengamati, berpikir dan berkehendak (Subjective Self). membedakan antara
(Sarwono, 1997 : 148).
(Beck,Willam dan Rawlin,1986:293),Mengatakan terdapat banyak aspek yang menyangkut diri adalah sesuatu yang biasa bagi Psikologi. Ada lima aspek dari Diri yaitu :
1. Fisik diri, termasuk tubuh dan semua aktivitas biologis berlangsung didalamnya, walaupun banyak orang mengidentifikasikan diri mereka lebih pada akal pikiran dari pada dengan tubuh mereka sendiri.
2. Diri sebagai proses, suatu aliran akal pikiran, emosi, dan perilaku yang kontan.
3. Diri sosial, merupakan sebuah konsep yang penting bagi ahli ilmu-ilmu sosial. Diri sosial terdiri atas akal pikiran dan perilaku yang kita ambil sebagai respon secara umum terhadap orang lain dan masyarakat.
4. Konsep diri, suatu pandangan pribadi yang memiliki seseorang tentang dirinya masing-masing.
5. Cita diri, merupakan faktor yang paling penting dari perilaku dan berkaitan erat dengan konsep diri.
Willian D. Brooks dalam bukunya "Speech Communication", mengatakan "self concept then, can be defined as those physical, social, and psychological perceptions of our selves that we have from experiences and our interaction with others", konsep diri ialah semua presepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang didasarkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain.
Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan-lahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan "apa dan siapa sebenarnya aku" dan "apa sebenarnya yang harus aku perbuat". Untuk menunjukan apakah konsep diri yang konkret sesuai atau terpisah dari perasaan dan pengalaman organismik, Rogers mengajukan dua konsep diri yaitu :
1. Incongruence :
Ketidaksesuaian antara konsep diri dan pengalaman organismik disebabkan adanya persaingan diri yang mendasar dalam individu. Dalam hal ini, individu merasa diancam dan takut karena. Dia ternyata tidak mampu menerima secara terbuka dan fleksibel semua pengalaman dan nilai orgnaismik dalam konsep dirinya yang terlalu sempit. Akibat dari semua ini ialah konsep diri utuh, tingkah lakunya definsif, pikirannya kaku dan picik.
2. Congruence :
Situasi saat pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan asli.
Secara hirarkis, konsep diri terdiri atas tiga peringkat (Pudjijogyanti, 1988 : 8-11), yaitu
1. Konsep diri global (menyeluruh) :
Konsep diri global merupakan suatu arus kesadaran dari seluruh keunikan individu. Dalam arus kesadaran itu, ada "The I", yaitu "Aku Subyek" dan "The Me" yaitu "Aku Obyek". Kedua "Aku" ini merupakan kesatuan yang tidak dapat dibedakan atau dipisahkan. Aku obyek ada karena proses menjadi tahu (knowing), dan proses ini bisa terjadi karena manusia mampu merefleksikan dirinya sendiri.
Dengan kata lain, kedua aku ini hanya dapat dibedakan secara konseptual, tetapi tetap merupakan satu kesatuan secara psikologis. Hal ini menunjukan bahwa kita tidak hanya dapat menilai orang lain, tetapi juga dapat menilai diri kita sendiri. Diri kita bukan hanya sebagai penanggap, namun juga sebagai peransang. Jadi, diri kita bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus.
2. Konsep diri Mayor :
Konsep diri mayor merupakan cara individu memahami aspek sosial, fisik dan akademis dirinya
3. Konsep diri spesifik :
Cara individu dalam memahami dirinya terhadap setiap jenis kegiatan dalam aspek akdemis, sosial maupun fisik.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri, Jalaluddin Rakhmat (1994) membagi 4 faktor yaitu :
1. Orang lain
Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu.
2. Significant Others
Dalam perkembangannya, meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional.
3. Affective Others
Orang lain yang mempunyai ikatan emosional dengan kita. Dari merekalah secara perlahan-lahan, kita membentuk konsep diri kita. Senyuman, pujian, penghargaan dan pelukan mereka, menyebabkan kita menilai diri kita secara positif. Sebaliknya ejekan, cemoohan, dan hardikan membuat kita memandang diri kita secara negatif.
4. Kelompok rujukan (Reference Group)
Dalam pergaulan masyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh pada konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya.
William Brooks menyebutkan empat faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri seseorang antara lain
1. Self Appraisal – Viewing Self as on object :
Menunjukan suatu pandangan, yang menjadikan diri sendiri sebagai obyek dalam komunikasi atau dengan kata lain adalah kesan kita terhadap diri kita sendiri. Dalam hal ini kita membentuk kesan-kesan tentang diri kita. Kita mengamati perilaku fisik (lahiriah) secara langsung, misalnya kita melihat diri kita di depan cermin dan kemudian menilai atau mempertimbangkan berat badan, penampilan dan senyum manis. Penilaian-penilaian tersebut sangat berpengaruh terhadap cara kita merasakan tentang diri kita, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, pada apa yang kita lihat tentang diri kita. Apabila merasakan apa yang kita tidak sukai tentang diri kita, disini kita berusaha untuk mengubahnya. Dan jika tidak mau mengubahnya, inilah awal dari konsep diri yang negatif terhadap diri kita sendiri.
Pada dasarnya, konsep diri yang tinggi pada anak dapat tercipta bila kondisi keluarga menyiratkan adanya integritas dan tenggang rasa yang tinggi antara anggota keluarga. Juga oleh sikap ibu yang puas terhadap hubungan ayah-anak, mendukung rasa percaya dan rasa aman anak, pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap suaminya. Adanya integritas dan tenggang rasa, serta sikap positif dari orang tua, akan menyebabkan anak memandang orang tua sebagai figur yang berhasil dan menganggap orangtua sebagai teman karib atau orang yang dapat dipercayai. Dengan kata lain, kondisi keluarga yang demikian dapat membuat anak menjadi lebih percaya diri dalam membentuk seluruh aspek dalam dirinya karena Ia mempunyai modal yang dapat dipercaya.
2. Reaction and Response of Others
Konsep diri itu tidak saja berkembang melalui pandangan kita terhadap diri sendiri, namun juga berkembang dalam rangka interaksi kita dengan masyarakat. Oleh sebab itu, konsep diri dipengaruhi oleh reaksi serta respons orang lain terhadap diri kita, misalnya perbincangan tentang masalah sosial.
Menurut Brook (1971), "Self concept is the direct result of how significant others react to the individual". Jadi, self concept atau konsep diri adalah hasil langsung dari cara orang lain bereaksi secara berarti kepada individu.
Karena kita mendengar adanya reaksi orang terhadap diri kita, misalnya apa yang mereka sukai atau tidak mereka sukai yang menyangkut diri kita, muncul apa yang mereka rasakan tentang diri kita, perbuatan kita, ide-ide, kata-kata dan semua yang menyangkut dengan diri kita. Dengan demikian, apa yang ada pada diri kita, di evaluasi oleh orang lain melalui interaksi kita dengan orang tersebut, dan pada gilirannya evaluasi mereka mempengaruhi perkembangan konsep diri kita.
3. Roles You Play-Role Taking
Peran merupakan seperangkat patokan, yang membatasi perilaku yang mesti dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu posisi (Suhardono, 1994).
Dalam hubungan pengaruh peran terhadap konsep diri, adanya aspek peran yang kita mainkan sedikit banyak akan mempengaruhi konsep diri kita.
Peran yang kita mainkan itu adalah hasil dari sistim nilai kita. Kita dapat memotret diri kita sebagai seorang yang dapat berperan sesuai dengan presepsi kita yang didasarkan pada pengalaman diri sendiri, yang dalam hal ini terdapat unsur selektivitas dari keinginan kita untuk memainkan peran, seperti halnya jika kita memilih baju memilih buah-buahan, memilih sekolah dan sebagainya. Lebih banyak peran yang kita mainkan dan dianggap positif oleh orang lain, semakin positif konsep diri kita. Semakin positif konsep diri kita, semakin positif komunikasi kita dengan orang lain.
4. Reference Group
Yang dimaksud dengan reference group atau kelompok rujukan adalah kelompok yang kita menjadi anggota di dalamnya. Jika kelompok ini kita anggap penting, dalam arti mereka dapat menilai dan beraksi pada kita, hal ini akan menjadi kekuatan untuk menentukan konsep diri kita. Willian Brookmengatakan "Research shows that how we evaluate ourselves is in part of function of how we are evaluated by reference groups" (Brook, 1971 : 66). Jadi menunjukan bahwa cara kita menilai diri kita merupakan bagian dari fungsi kita di evaluasi oleh kelompok rujukan.
Sikap menunjukan rasa tidak senang atau tidak setuju terhadap kehadiran seseorang, biasanya dipergunakan sebagai bahan komunikasi dalam penilaian kelompok terhadap perilaku seseorang. Dan komunikasi tersebut selanjutnya akan dapat mengembangkan konsep diri seseorang sebagai akibat dari adanya pengaruh kelompok rujukan. Semakin banyak kelompok rujukan yang menganggap diri kita positif, semakin positif pula konsep diri kita .
Komponen-Komponen Konsep Diri :
1. Citra tubuh
Sikap, presepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan obyek yang kontak secara terus menerus.
2. Ideal diri
Presepsi individu tentang bagaimana dia harus berprilaku berdasarkan standar, tujuan, keinginan atau nilai pribadi tertentu. Ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.
3. Harga Diri
Penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri, cita-cita, harapan langsung menghasilkan perasaan berharga.
4. Penampilan Peran
Seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial.
5. Identitas Personal
Kesadaran atau keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Identitas ditandai dengan kemampuan memandang diri sendiri beda dengan orang lain, mempunyai percaya diri, dapat mengontrol diri, mempunyai persepsi tentang peran serta citra diri

Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, bahwa kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota (kelompok pemecahan manaslah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisocial.
Bahasan dalam modul ini mencakup tiga hal, yaitu pengertian mngenai kemonikasi kelompok, karakteristik dari komunikasi kelompok dan kajian tentang fungsi dari komunikasi kelompok.
Pengertian Komunikasi Kelompok
Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to-face interaction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to recall personal characteristics of other members accurately).
Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu :
  1. interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci.
  2. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok.
  3. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
  4. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.

Fungsi Komunikasi Kelompok
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk pembuatan kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri.
Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar